Phdi Bali Desak Phdi Pusat Segera Sikapi Hare Krisna

Brahma-Madhva-Gaudiya sampradaya, mengacu pada nilai-nilai tradisional yang berasal dari pemahaman Dewa Brahma. Artinya Hare Khrisna mengklasifikasikan diri sebagai tradisi monoteistik, melihat banyak bentuk Wisnu sebagai perluasan atau inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa– Krishna.

Ketua Puskor Hindunesia, Ida Bagus Susena mengatakan, PHDI Bali harus lebih proaktif agar kondisi tidak semakin memanas. Menurutnya, saat ini terjadi pergeseran yang tidak alamiah yang cenderung mengubah masyarakat dengan ajaran dari luar yang berkedok Hindu. Terlebih, mereka menyebarkan ajaranya ke generasi muda dengan menyisir sekolah-sekolah,” ungkapnya.

Anji & Hadi Pranoto Dipolisikan Terkait Obat Corona.

Setelah menerima masukan-masukan, langsung berangkat ke Jakarta walaupun di tengah situasi pandemi Covid-19. Selanjutnya PHDI akan meminta pertimbangan dari pihak Kementerian Agama, Kepolisian, Kejaksaan Agung,” katanya. Sebagian masyarakat Hindu juga menilai kegiatan Hare Krishna mengancam tradisi dan kebudayaan mereka.

  • Dijelaskan pada klarifikasi itu, pendiri ISKCON, Srila Prabhupada yang mengatakan bahwa ISKCON bukanlah Hindu, dilakukan lantaran untuk menghindari kesalahpahamaan ajaran yang ia berikan hanya khusus untuk orang dari satu agama atau dari india.
  • PHDI Bali sempat menggelar mediasi terkait dengan polemik Hare Krishna di Bali.
  • Kalau memamg menganggu ketertiban umum dan kegiatan umat Hindu di desa adat, Kontroversi Hare Krishna bisa dibubarkan dan ditindak secara hukum.

” Generasi kita terancam. Ajaran HK sendiri menentang panca yadnya terutama tentang binatang. Terlebih, mereka menyebarkan ajaranya ke generasi muda dengan menyisir sekolah-sekolah,” ungkapnya. Aksi ini merupakan aksi penolakan terkait berkembangnya ajaran Hare Krisna di Bali. Namun dengan terus-menerus dan meningkatnya penggunaan istilah Sanatana dharma atau Veda-dharma, setidaknya oleh orang-orang yang lebih sadar akan definitif dasar sanskrit istilah-istilah ini, mereka akan memperoleh pengakuan sebagai istilah yang lebih tepat. Dikatakan bahwa, “Selain itu, benar bahwa nama ini telah diberikan kepada ras Arya asli daerah penyerbu Muslim untuk mempermalukan mereka. Dalam bahasa Persia, kata penulis kami, kata tersebut berarti budak, dan menurut Islam, semua orang yang tidak memeluk Islam disebut sebagai budak.

Viral Di Media Sosial, Ini Potret Menarik Terasering Panyaweuyan.

Tokoh ISKCON di Amerika menolak tuduhan bahwa kegiatan Hare Krishna ilegal di Indonesia. Diantaranya, mendesak PHDI untuk membubarkan Hare Krishna, mengeluarkan Hare Krisna dari agama Hindu dan PHDI, mencabut pengayoman PHDI terhadap ISKCON/Hare Krishna, penarikan buku-buku pelajaran siswa SD yang memuat konten Hare Krisna dan tidak sesuai dengan tradisi budaya dan kearifan lokal di Bali. Prabhupada memaknai “Hindu” dalam konteks nama yang berasal dari sebutan untuk penduduk di sekitar sungai Sindhu untuk menyebut orang yang berasal dari India, atau agama yang berasal dari India.

Lokasi di mana kata “Hindu” terjadi untuk apa beberapa orang merasa pertama kalinya dalam Avesta dari Iran dalam deskripsi negara India dan rakyatnya. Seperti negara agama Zorastrime, kata tampaknya mengambil makna yang menghina. Dan tentu saja sebagai mana Islam menyebar di India, kata “Hindu” dan “Hindustan” menjadi semakin tidak dihormati dan bahkan dibenci di sector Persia, dan lebih menonjol dalam sastra Persia dan Arab setelah abad ke-11. Untuk mengajarkan dan menyemangatkan gerakan sankirtana, atau pengucapan nama suci Tuhan secara beramai-ramai seperti yang disampaikan dalam ajaran-ajaran Sri Caitanya Mahaprabhu. Secara sistematis mempropagandakan pengetahuan spiritual kepada masyarakat luas dan untuk mendidik semua orang dalam teknik-teknik kehidupan spiritual dalam rangka menahan nilai-nilai yang tidak seimbang dalam kehidupan dan untuk mencapai kesatuan yang sejati dan kedamaian di dunia.

Kurangi Sampah Hanyut Ke Laut, 100 Trash Booms Akan Dipasang Di Bali

Pria yang juga akrab disapa Bendesa Agung ini menjelaskan, bahwa suasana yang panas akibat polemik Hare Krishna di masyarakat khususnya di media sosial memang harus segera didinginkan. Ia mengaku MDA Bali dan PHDI Bali akan menyelesaikan masalah ini dengan tuntas, sehingga kedepannya tidak ada lagi keributan soal ini yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan di Bali. Kenak menjelaskan, PHDI sesuai dengan tupoksinya mengayomi umat Hindu, tentu mengedepankan dialog dalam penyelesaian persoalan ini. Ia menyayangkan adanya umat Hindu yang terprovokasi atas polemik ini, sehingga melakukan hujatan di media sosial. ” Tim Komunikasi, Mediasi, Advokasi yang dibentuk PHDI Bali sudah bekerja.